Jurusan-Jurusan di Perguruan Tinggi yang Sepi Peminat

http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=142159

 Kalah Tren hingga Kurang Sosialisasi

MASA pendaftaran mahasiswa baru masih berlangsung di beberapa kampus dan sudah usai di sebagian kampus. Namun, tak semua jurusan atau program studi yang ada dibanjiri peminat. Ada beberapa jurusan yang peminatnya sepi.

Di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), jurusan atau program studi yang sepi peminat adalah teknologi pangan, di bawah fakultas industri pangan. Program studi tersebut per tahun hanya diminati kurang dari 20 orang. "Tapi, baru tiga tahun ini," ujar Prof Dr Ida A. Brahmasari drg DipDHE MPA, rektor Untag.

Menurut Ida, dulu peminat jurusan yang satu ini cukup banyak. "Kebanyakan orang salah kaprah dengan jurusan pertanian. Padahal, di program studi pangan ini, mahasiswa tidak akan diajari menjadi petani, namun lebih kepada pengelolaan hasil pangan," ungkapnya.

Karena itu, nama fakultas tersebut pernah diganti. Dari fakultas teknologi pertanian (fateta) menjadi fakultas industri pangan (FIP). "Kami berusaha agar tidak menggunakan nama pertanian," ujarnya.

Hal serupa dialami Universitas dr Soetomo (Unitomo). Di universitas tersebut, jurusan teknologi pertanian juga sepi peminat. Menurut Ir Hariyanto, dekan Fakultas Pertanian Unitomo, beberapa tahun terakhir jumlah mahasiswanya berkisar antara 30 hingga 40 orang. "Trennya menurun," ucapnya.

Hariyanto menduga bahwa peminat di jurusan teknologi pertanian sedikit lantaran banyak mahasiswa yang tersedot masuk PTN dengan berbagai cara. Selain itu, tren mahasiswa sekarang ini lebih menuju kepada multimedia. "Pertanian dianggap ilmu orang tua," ujarnya.

Hal serupa dialami Jurusan Teknik Industri dan Teknik Elektro Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS). Total mahasiswa di dua jurusan tersebut masing-masing kurang dari 50 orang. Itu sudah angka keseluruhan dari empat angkatan yang masih aktif hingga sekarang.

"Tren informatika dan desain komunikasi visual dalam lima tahun belakangan ini sudah membelokkan kegemaran calon mahasiswa," jelas Ir Hari Sutikno MT, dosen jurusan elektro perguruan tinggi yang berlokasi di kawasan Ngagel Jaya Tengah tersebut.

Rekan Hari sesama dosen STTS, Tigor Tambunan, membenarkan hal itu. Pria yang dosen jurusan teknik industri tersebut menambahkan, beberapa tahun lalu, jurusannya bahkan tidak memperoleh mahasiswa sama sekali. Baru dua tahun belakangan, jurusan itu kembali bisa "bernapas".

"Kami terbantu dengan booming jurusan desain komunikasi visual. Jamak diketahui, teknik industri lekat urusannya dengan desain," terang alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut.

Menurut Tigor, anjloknya angka peminat dua jurusan di kampusnya antara lain disebabkan putusnya rantai informasi kepada para calon mahasiswa. Padahal, dua jurusan itu termasuk yang dibutuhkan dunia kerja selama ini. Mayoritas calon mahasiswa, imbuh pria asal Sumatera Utara tersebut, belum tahu mengenai banyaknya peluang lapangan pekerjaan lulusan dua disiplin ilmu itu.

"Sejumlah perusahaan maupun alumnus kampus meminta lulusan teknik elektro di kampus kami untuk dipekerjakan," ungkap Dwi Yanti, konsultan pendidikan STTS. Namun, imbuh dia, sering kali pihak kampus tidak bisa memenuhi jumlah permintaan SDM yang mereka ajukan. Bisa memenuhi separo dari angka itu saja sudah syukur. Sebab, lulusan jurusan tersebut semakin sedikit dari tahun ke tahun.

Di Universitas Airlangga (Unair), jurusan sejarah fakultas ilmu budaya (FIB) termasuk minim peminat. Hal itu dikemukakan Dekan FIB Aribowo. Pria kelahiran 1958 tersebut menjelaskan, tiap tahun akademik baru, paling banyak mahasiswa baru hanya mengisi 50 persen kuota yang disediakan.

"Para calon mahasiswa mungkin menganggap sejarah membosankan dan monoton. Padahal, ahli sejarah dibutuhkan di berbagai bidang," tuturnya. Dia mencontohkan, di tiap perusahaan dibutuhkan seseorang yang mengerti histori perusahaan tersebut. Itu diperlukan untuk mengetahui bagaimana bisa perusahaan tersebut sukses atau gagal. Pelajaran itu bisa digunakan sebagai tambahan wawasan guna mencapai perusahaan yang lebih baik.

Hal serupa dialami Fakultas Pertanian UPN Veteran Jatim. Fakultas yang dulu dikenal sebagai andalan bagi kampus tersebut kini juga mengalami kelesuan peminat. Hal itu diungkapkan Dekan Fakultas Pertanian Dr Ir Ramdan Hidayat.

Dia menjelaskan, penurunan minat terhadap program studi di fakultas pertanian terjadi sejak 2003. Jika pada tahun-tahun sebelumnya jumlah peminat empat program studi di fakultas itu lebih dari seratus orang, sejak 2003 peminatnya hanya sekitar 80 orang. (rio/upi/dan/c9/nw)

---

Jurusan Sepi Peminat :

Unair Ilmu Sejarah

STTS Teknik Elektro

Unitomo Teknologi Pertanian

Untag Teknologi Pangan

UPN Veteran Jatim Pertanian


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 komentar:



Poskan Komentar